Kenapa satwa liar tidak boleh dijadikan binatang peliharaan?

Satwa liar merupakan binatang yang hidup di darat atau air yang masih memiliki sifat liar baik yang hidup bebas di alam liarnya ataupun yang dipelihara manusia. Indonesia sebagai negara dengan tingkat keanekaragaman hayati tinggi tentunya memiliki banyak sekali satwa liar baik yang populasinya terancam dan dalam status dilindungi ataupun satwa liar yang populasinya tidak terancam dan sering ditemui di hutan.

Jika kita melihat di masyarakat banyak sekali yang masih memelihara satwa liar dengan berbagai alasan seperti rasa kasihan, rasa bangga memelihara satwa dilindungi, atau dikarenakan kelucuan dan keunikan satwa tersebut hingga dapat meningkatkan gengsi atau status sosial si pemilik di masyarakat. Hal inilah yang menjadi salah kaprah yang terjadi di masyarakat dikarenakan tidak tahu resiko yang harus ditanggung ketika memelihara satwa liar. Berikut beberapa alasan lebih jelas kenapa tidak boleh memelihara satwa liar, apalagi satwa yang dilindungi.

1. Memelihara satwa liar merupakan tindakan ilegal dan melanggar hukum

Memelihara beberapa jenis satwa liar tertentu terutama yang dilindungi merupakan tindakan melanggar hukum negara. Sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan pemerintah UU RI No. 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, Pada Pasal 21 ayat 2 disebutkan bahwa bagi pelanggar akan dikenai sanksi berupa pidana penjara 5 tahun atau denda paling banyak 100.000.000 (seratus juta rupiah). Untuk kasus tertentu seperti perdagangan dan sebagainya dapat dilihat lebih lanjut status satwa tersebut di CITES (Convention International Trade of Endangered Species).

2. Kita tidak dapat mendomestikasi satwa liar

Dibutuhkan waktu berabad-abad untuk dapat melakukan domestikasi satwa liar menjadi satwa yang dapat hidup berdampingan dengan manusia. Kucing dan anjing yang berhasil didomestikasi sendiri membutuhkan waktu hingga seribu tahun untuk dpaat dijadikan binatang peiharaan. Demikian juga sapi, kambing, dan beberapa hewan ternak yang berhasil didomestikasi oleh nenek moyang kita.

3. Satwa liar dapat menjadi agen pembawa penyakit

Resiko yang dapat diakibatkan dari memelihara satwa liar adalah beragam kemungkinan penyakit baru yang dapat diakibatkan kontak antara satwa liar dengan manusia yang semakin dekat. Lingkungan satwa liar yang hidup di hutan dan jauh dari masyarakat merupakakan reservoir agen seperti virus, bakteri, protozoa, termasuk vektornya yang tidak pernah bersentuhan langsung dengan lingkungan hidup manusia. Semakin dekat batas antara satwa liar dengan manusia dapat mengakibatkan agen (virus, bakteri, protozoa, ataupun vektor) yang sebelumnya tidak bersentuhan dengan manusia dapat terpapar dan menyebabkan penyakit baru yang muncul (emerging disease). Penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia disebut juga zoonosis.

Contoh zoonosis yang muncul dan ditularkan melalui kontak dengan satwa liar contohnya West Nile Virus, Ebola, Flu burung, dan flu babi. Spesies tertentu juga dapat menularkan penyakit tertentu misalnya resiko dari memelihara primata (rabies, TBC, kecacingan), dan reptil atau amphibi liar (salmonelosis akut).Berbagai alasan telah disebutkan mengapa satwa liar tidak seharusnya dipelihara secara individu. Jika anda menemukan satwa liar baik di rumah ataupun di jalan, hal yang dapat dilakukan yaitu menghubungi pihak berwenang BKSDA (Balai Konservasi sumber Daya Alam) setempat untuk mengamankan satwa tersebut.

Ayo jaga kelestarian satwa liar Indonesia? daripada dipelihara sendiri, yuk kita lestarikan satwa liar kita dari habitat aslinya dengan cara menjaga kelestarian hutan dan tidak merusak lingkungan. Salam hijau.

Updated: January 31, 2021 — 6:18 pm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *