Kayu “Spanyol”

Kayu spanyol bukan berarti kayu yang berasal dari Negeri Spanyol, namun kayu SParuh NYOLong. Mungkin belum banyak yang mengenal istilah ini karena istilah ini masih diketahui sebatas praktisi kehutanan.

Tidak sedikit konsumen yang berasal dari Negara barat mengira hampir seluruh kayu asal Indonesia merupakan hasil pembalakan liar. Padahal tidak seluruhnya kayu asal Indonesia kayu ilegal yang asalnya tidak jelas. Kayu yang berasal dari hutan rakyat misalnya, kayu tersebut merupakan kayu legal karena kepemilikannya jelas.

Pemerintah dan LSM terkait masih terus melakukan upaya pemberantasan kayu illegal. Illegal logging merupakan masalah bertahun-tahun yang harus dituntaskan. Sesaat keuntungan yang didapatkan dari hasil pembalakan liar tersebut memang tidak sedikit (dalam bentuk uang). Namun, efek yang ditimbulkan dari pembalakan liar tersebut berkali-kali lipat nilainya. Kerusakan yang diakibatkan pembalakan liar membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mengembalikan ekosistem hutan seperti sedia kala.

Efek yang dihasilkan tidak hanya terjadi pengurangan luas hutan, namun juga menurunnya keragaman spesies di habitat hutan. Efek ikutannya pun akan ada seperti hilangngan habitat asli hutan, berkurangnya ekosistem, keragaman sepesies, tanah longsor, banjir bandang, bahkan pengurangan jumlah oksigen yang ada di udara. Berapa nilai kerusakan-kerusakan ini? Sangat besar.

Untuk memberantas pembalakan liar, Indonesia mulai mengembangkan sistem legalitas kayu yang disebut SVLK atau sistem verifikasi legalitas kayu. Sistem ini wajib bagi seluruh pelaku kehutanan. Dengan sistem ini, kayu legal bisa diidentifikasi baik di negeri sendiri maupun di negeri barat, khususnya benua biru (Eropa).

Sistem ini sudah melalui perjuangan yang cukup panjang agar bisa memfasilitasi kebutuhan industry kehutanan di negeri sendiri baik skala kecil maupun menengah hingga kebutuhan Negara-negara konsumen di dunia.

Sosialisasi dari pemerintah maupun LSM yang terus menyuarakan pentingnya menjaga kelestarian hutan untuk generasi yang akan datang membuahkan hasil yang cukup menyenangkan. Menurut laporan FAO tahun 2010, laju deforestasi selama kurun waktu 2000 – 2010 menurun dibandingkan dengan kurun waktu 1990 – 2000 menjadi 0,5 hingga 1,9 juta hektar per tahun. Sebelumnya deforestasi hutan pada tahun 1990 – 1997 melaju dari 1,8 juta hektar per tahun hingga 2,8 juta hektar per tahun.

Efek illegal logging atau rusaknya kelestarian hutan dan lingkungan di Negara ini, memang akan jauh dirasakan. Namun, sederhananya kenapa illegal logging harus diberantas dan kenapa pelestarian hutan dan lingkungan tetap harus dilakukan, “Anda pasti tidak mau anak-cucu Anda, pergi ke suatu tempat membawa tabung gas oksigen kemana-mana atau menggunakan pelindung tubuh karena sinar matahari semakin garang menyinari bumi.”

Jadi, ayo bersama-sama menjaga hutan dan lingkungan tetap asri demi generasi yang akan datang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *